Tampilkan postingan dengan label Sel Volta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sel Volta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2020

Proses Perkaratan Besi dan cara Pencegahannya

Korosi merupakan masalah yang selalu mendapat perhatian sebab korosi dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar. Dalam arti luas Korosi merupakan peristiwa perusakan logam oleh karena terjadinya reaksi kimia antara logam dengan zat-zat di lingkungannya membentuk senyawa yang tak dikehendaki.

Terjadinya korosi merupakan suatu peristiwa elektrokimia. Menurut teori elektrokimia, suatu logam akan mengalami korosi jika pada permukaan logam terdapat bagian yang bertindak sebagai Anode (daerah oksidasi) dan ada bagian yang bertindak sebagai Katode (daerah reduksi oksigen)

Jika besi kontak dengan air atau udara yang dengan uap air, besi tersebut akan berkarat. Komposisi utama karat besi adalah besi (III) oksida terhidrat,  Fe2O3∙xH2O. Mekanisme perkaratan besi bergantung pada keadaan lingkungan keberadaaan besi tersebut. Pembentukan karat besi akan lebih cepat dengan adanya asam, garam, logam yang kurang reaktif dan temperatur tinggi.

Unsur utama dalam pembentungan karat besi adalah Air dan Oksigen. Pembentukan karat besi dimulai dari teroksidasinya Fe menjadi Fe2+ menurut reaksi :

Fe(s) --> Fe2+ + 2e

Fe2+ yang terbentuk akan meninggalkan besi melalui air dan bereaksi dengan O2 membentuk Fe3+ dalam karat. Dalam perkaratan tersebut, oksigen mengalami reduksi sebagai berikut :

O2(g) + 4H+(aq) + 4e --> 2H2O(l) atau O2(g) + 2H2O(l) + 4e --> 4OH-(aq) 

oksigen bertindak sebagai zat oksidator yang mengoksidasi Fe2+(aq) lebih lanjut menjadi Fe3+ yang selanjutnya Fe3+ terhidrolisis membentuk karat sesuai reaksi berikut :

 2Fe3+(aq) + (3+x) H2O --> Fe2O3∙xH2O(s) + 6H+(aq) atau

Fe2+(aq) + 2OH-(aq) --> Fe(OH)2(aq)

4Fe(OH)2(aq) + O2(g) --> Fe2O3(s) + 4H2O(l)


Cara Pencegahan Karat Besi (Korosi)

Pertama : Menggunakan lapisan pelindung untuk mencegah kontak langsung dengan H2O dan O2

Contoh lapisan pelindung yang dapat digunakan, antara lain lapisan cat, lapisan oli dan gemuk, lapisan plastik, dan pelapisan logam lain, seperti Sn, Zn, dan Cr. Pada pelapisan cat dan pelapisan plastik, bila cat tergores/terkelupas atau plastik terkelupas, proses perkaratan akan mulai terjadi pada bagian yang terpapar dengan udara tersebut. Pada pelapisan dengan oli dan gemuk, perlu dilakukan pengolesan secara berkala.

Melakukan pelapisan besi dengan timah (dikenal dengan nama tin plating), timah lebih tahan korosi (kurang reaktif) dibanding besi, di mana potensial reduksi besi lebih negatif (E° Fe = −0,44 V; E° Sn = −0,14 V). Namun, apabila lapisan timah tergores, maka timah justru akan mempercepat korosi pada besi. Pelapisan timah umumnya digunakan pada kaleng-kaleng kemasan makanan dengan tujuan agar kaleng-kaleng bekas cepat rusak dan hancur.

Melakukan pelapisan besi dengan zink (dikenal dengan nama galvanisasi), zink lebih reaktif dibanding besi (E° Fe = −0,44 V; E° Sn = −0,76 V). Berbeda dengan timah, bila lapisannnya tidak utuh, zink masih dapat melindungi besi dari korosi. Hal ini terjadi sebagaimana terbentuknya sel elektrokimia dengan zink sebagai anode yang teroksidasi dan besi sebagai katode. Mekanisme perlindungan ini disebut perlindungan katode. Pelapisan zink umumnya digunakan pada besi penopang konstruksi dan pipa besi.

Melakukan pelapisan besi dengan kromium (dikenal dengan nama chrome plating), kromium lebih reaktif dibanding besi (E° Fe = −0,44 V; E° Cr = −0,74 V). Sama seperti zink, mekanisme perlindungan katode juga terjadi pada pelapisan kromium meskipun ada lapisan kromium yang rusak. Pelapisan kromium umumnya digunakan pada ketel, setang, dan bemper mobil.

Kedua : Menggunakan perlindungan katode / proteksi katodik dimana dapat menggunakan logam lain yang lebih reaktif sebagai anode korban

Logam lain yang lebih reaktif dari besi, seperti Zn, Cr, Al, dan Mg, (dalam deret volta terletak di sebelah kiri Fe) akan berfungsi sebagai anode korban yang menyuplai elektron yang digunakan untuk mereduksi oksigen pada katode besi. Metode perlindungan katode ini dapat dilakukan dengan pelapisan seperti pada galvanisasi dan chrome plating ataupun dengan hanya menghubungkan logam anode korban dengan besi. Sebagai contoh, pipa besi yang ditanam di bawah tanah dan badan kapal laut umumnya dihubungkan dengan batang magnesium. Magnesium akan berfungsi sebagai anode korban dan besi menjadi katode yang terlindungi dari korosi (E° Fe = −0,44 V; E° Cr = −2,37 V), namun batang magnesium tersebut harus diganti secara berkala.

Ilustrasi : Pipa besi yang ada dalam tanah dilindungi oleh logam Magnesium (Mg)



Senin, 24 Agustus 2020

Sel Volta

Susunan Sel Volta

Secara umum, sel volta tersusun dari:
Anode, yaitu elektrode tempat terjadinya reaksi oksidasi.
Katode, yaitu elektrode tempat terjadinya reaksi reduksi.
Elektrolit, yaitu zat yang dapat menghantarkan listrik
Rangkaian luar, yaitu kawat konduktor yang menghubungkan anode dengan katode.
Jembatan garam, yaitu rangkaian dalam yang terdiri dari larutan garam. Jembatan garam memungkinkan adanya aliran ion-ion dari setengah sel anode ke setengah sel katode, dan sebaliknya sehingga terbentuk rangkaian listrik tertutup.


Ilustrasi : Rangkaian sel volta dengan jembatan garam

Pada gambar di atas, terlihat rangkaian sel volta dengan dua kompartemen. Masing-masing kompartemen merupakan setengah sel. 
Pada kompartemen kiri, dalam larutan ZnSO4 terjadi setengah reaksi oksidasi Zn menjadi ion Zn2+, sedangkan :
Pada kompartemen kanan, dalam larutan CuSO4 terjadi setengah reaksi reduksi ion Cu2+ menjadi Cu. 
Logam Zn dan Cu yang menjadi kutub-kutub listrik pada sel volta di atas disebut sebagai elektrode. Logam Zn tempat terjadinya reaksi oksidasi Zn disebut anoda sedangkan Logam Cu tempat terjadinya reaksi reduksi ion Cu2+ disebut katoda. 
Oleh karena elektron dilepas dari reaksi oksidasi di anoda menuju reaksi reduksi di katoda, maka anoda adalah kutub negatif dan katoda adalah kutub positif

Kedua kompartemen dihubungkan dengan pipa kaca berbentuk U yang berisi larutan garam seperti NaNO3 atau KCl dalam medium agar-agar yang disebut Jembatan Garam. 
Fungsi jembatan garam adalah untuk menetralkan muatan listrik dari kedua kompartemen setelah reaksi redoks dengan menyuplai anion ke kompartemen anoda dan kation ke kompartemen katoda; serta memungkinkan terjadinya migrasi ion-ion pada kedua kompartemen sehingga membentuk rangkaian listrik tertutup. 
Pada sel volta di atas, dengan jembatan garam KNO3, ion NO3− akan bergerak ke arah anoda untuk menetralkan ion Zn2+ berlebih dari hasil oksidasi Zn; dan ion K+ akan bergerak ke arah katoda untuk menetralkan ion SO42− berlebih dari larutan CuSO4 oleh karena berkurangnya ion Cu2+ setelah tereduksi menjadi logam Cu.


Notasi Sel Volta

Susunan sel volta dapat dinyatakan dengan notasi sel volta yang disebut juga diagram sel. Untuk contoh sel volta di atas, notasi selnya dapat dinyatakan sebagai berikut.

Zn | Zn2+ || Cu2+ | Cu atau Zn(s) | Zn2+(aq) || Cu2+(aq) | Cu(s)

Penulisan notasi sel volta mengikuti konvensi umum sebagai berikut.
Komponen-komponen pada kompartemen anoda (setengah sel oksidasi) ditulis pada bagian kiri, sedangkan komponen-komponen pada kompartemen katoda (setengah sel reduksi) ditulis pada bagian kanan.
Tanda dua garis vertikal ( | |) melambangkan jembatan garam yang memisahkan kedua setengah sel.
Tanda satu garis vertikal ( | ) melambangkan batas fase antara komponen-komponen dengan fase berbeda. 


Potensial Sel Standar (E°sel)

Adanya arus listrik berupa aliran elektron pada sel volta disebabkan oleh adanya beda potensial antara kedua elektrode yang disebut juga dengan potensial sel (Esel) ataupun gaya gerak listrik (ggl) atau electromotive force (emf). 
Potensial sel yang diukur pada keadaan standar (suhu 25°C dengan konsentrasi setiap produk dan reaktan dalam larutan 1 M dan tekanan gas setiap produk dan reaktan 1 atm) disebut potensial sel standar (E°sel). 
Nilai potensial sel (E°sel) sama dengan selisih potensial kedua elektrode. 

E°sel = E°katode – E°anode

Katode adalah elektrode yang memiliki nilai E° lebih besar (positif), sedangkan anode adalah elektrode yang memiliki nilai E° lebih kecil (negatif). Data nilai potensial elektrode standar dapat dilihat pada tabel berikut.

Data Potensial Sel Standar (
E°)

Kespontanan reaksi redoks dapat diprediksi dari nilai potensial reaksi redoks tersebut. Suatu reaksi redoks akan berlangsung spontan ke arah pembentukan produk bila potensial reaksinya bernilai positif.
Reaksi Redoks spontan jika E°redoks > 0 (bernilai Positif)


Deret Keaktifan Logam (Deret Volta)

Urutan unsur-unsur logam pada tabel potensial elektrode standar disebut juga deret deret volta. Deret ini memberikan informasi reaktivitas unsur logam dalam suatu reaksi redoks.


Keterangan : Reaktivitas unsur logam semakin berkurang dari kiri ke kanan.
dimana :
Sifat reduktor (daya reduksi) logam semakin berkurang dari kiri ke kanan.
Kecenderungan logam untuk teroksidasi semakin berkurang dari kiri ke kanan.
Sifat oksidator (daya oksidasi) logam semakin bertambah dari kiri ke kanan.
Kecenderungan ion logam untuk tereduksi semakin bertambah dari kiri ke kanan.


Contoh Soal :
Diketahui potensial elektrode aluminium dan perak sebagai berikut.
Fe2+(aq) + 2e− → Fe(s)  E° = − 0,44 V
Cu2+(aq) + 2e− → Ag(s) E° = + 0,34 V
a. Tulislah diagram sel volta yang disusun dari kedua elektrode tersebut.
b. Tuliskan reaksi yang terjadi pada sel tersebut.
c. Tentukan potensial standar sel tersebut.
d. Prediksikan apakah reaksi FeSO4aq) + Cu(s) → Fe(s) + CuSO4(aq) berlangsung spontan pada keadaan standar.

Jawab:

a. Reaksi oksidasi di anode → E° lebih negatif → Fe
    Reaksi reduksi di katode → E° lebih positif → Cu
    Diagram sel: Fe | Fe2+ || Cu2+ | Cu

b. Katode (reduksi)     : Cu2+(aq) + 2e− → Cu(s)   E°red = +0,34 V
    Anode (oksidasi)     : Fe(s) → Fe2+(aq) + 2e−    E°red = −0,44 V                   
    Reaksi sel (redoks) : Cu2+(aq) + Fe(s) → Cu(s) + Fe2+(aq) E°sel = +0,78 V

Perhatian! Nilai potensial elektrode tidak bergantung pada koefisien reaksi.

c. E°sel = E°katode – E°anode = (+0,34 V) − (−1,44 V) = +0,78 V
d. Reaksi ion bersih : Fe2+(aq) + Cu(s) → Fe(s) + Cu2+(aq)
    Reduksi  : Fe2+(aq) + 2e− → Fe(s) ;  E°red (Fe2+/Fe) = −0,44 V
    Oksidasi : Cu(s) → Cu2+(aq) + 2e− ;  E°red (Cu2+/Cu) = +0,80 V
    E°redoks = E°red 
Fe2+/Fe) – E°red (Cu2+/Cu) = (−0,44 V) − (+0,34 V) = − 0,78 V
    
Oleh karena E°redoks < 0, reaksi tidak berlangsung spontan.

Perbedaan Sel Volta dan Sel Elektrolisis

Ada dua jenis sel elektrokimia yaitu sel volta (sel galvani) dan sel elektrolisis. Reaksi spontan terjadi pada sel galvani (volta)sedangkan reaksi tidak spontan terjadi pada sel elektrolisis. Berikut penjelasannya :

Elektroda

Pada Sel Elektrolisis : Anoda bermuatan positif , sedangkan Katoda negatif. (KNAP)

Pada Sel Volta : Anoda bermuatan negatif, sedangkan Katoda bermuatan positif. (KPAN) 

Sel Galvani atau Sel Volta

Sel Volta
Sel Volta

Reaksi redoks dalam sel galvani adalah reaksi spontan, dimana terjadi perubahan energi kimia menjadi energi listrik. Reaksi sel Volta memasok energi yang digunakan untuk melakukan usaha atau kerja. Energi yang dimanfaatkan dengan menempatkan oksidasi dan reduksi dalam wadah terpisah, bergabung dengan suatu alat yang memungkinkan elektron mengalir seperti gambar di samping. Penyusunan sel volta pada kedua elektroda perlu memperhatikan kemampuan elektroda mengalami reaksi rduksi atau reaksi oksidasi.

Sel Elektrolisis

Sel elektrolisis

Reaksi redoks dalam sel elektrolisis adalah tidak spontan, dimana adanya energi listrik makan akan terjadi reaksi kimia ata dengan kata lain Energi listrik diperlukan untuk menginduksi reaksi elektrolisis. Contoh dari sel elektrolisis pada NaCl cair, di mana  elektrolisis  NaCl cair untuk membentuk natrium cair dan gas klorin. Ion-ion natrium bermigrasi ke arah katoda, di mana mereka direduksi menjadi logam natrium. Demikian pula, ion klorida bermigrasi ke anoda dan dioksidasi untuk membentuk gas klor. 

Perbedaan dan Persamaan Sel Volta (Sel Galvani) dan Sel Elektrolisis

Anoda dari sel elektrolisis bermuatan positif karena anoda menarik anion dari larutan, sedangkan katoda negatif. (KNAP = Katoda Negatif, Anoda Positif)

Anoda dari sebuah sel volta (selgalvani) bermuatan negatif, karena oksidasi spontan pada anoda adalah sumber elektron sel atau muatan negatif. Katoda dari sel galvani adalah bermuatan positif. (KPAN = Latifa Positif, Anoda Negatif)

Reaksi redoks dalam sel galvani adalah reaksi spontan.

Reaksi redoks dalam sel elektrolisis adalah nonspontan. 

Sel Volta dan sel elektrolisis memiliki persamaan pada terjadinya reaksi pada elektroda, dimana Reaksi Oksidasi terjadi di Anoda dan reaksi reduksi terjadi di Katoda


Selasa, 19 Februari 2019

Belajar Kimia : Sel Volta, Elektrolisis dan Hukum Faraday dengan Video

Anda membaca postingan materi sel volta, sel elektrolis dan Hukum Faraday?. Jika belum maka anda bisa mempelajari dengan menggunakan video maka link video berikut, semoga dapat membantu anda lebih bisa memahami materi reaksi redoks dan elektrokimia. 
Ilustrasi : Elektrolisis Air



Silakan menyimak video berikut :




semoga bermanfaat

Minggu, 17 Februari 2019

Sel Volta

Apakah itu sel elektrokimia ?


Sel elektrokimia adalah suatu sel kimia yang berhubungan dengan penggunaan listrik di dalamnya. Sel elektrokimia dibedakan menjadi 2 yaitu sel Volta (sel Galvani) dan sel elektrolisis. Sel elektrokimia menggunakan dua elektroda yang masing-masing dinamakan katoda dan anoda.
Katoda  adalah tempat terjadinya reaksi reduksi,
Anoda adalah tempat terjadinya reaksi oksidasi

Apakah Sel Volta / Sel Galvani itu?
Sel volta adalah suatu rangkaian sel yang tersusun atas dua elektroda dan dua larutan yang merupakan bentuk ion dari elektrodanya yang dapat menghasilkan listrik karena adanya perbedaan potensial sel

Ilustrasi : Rangkaian Sel Volta dengan Jembatan Garam

Ada beberapa unsur yang harus diperhatikan pada sel Volta
1. Elektroda
    Elektroda terdiri dari katoda dan anoda. pada sel volta katoda bermuatan (+) dan anoda 
    bermuatan (-). Masing-masing elektroda biasanya merupakan loga yang berbeda 
    jenisnya
    Anode, yaitu elektrode tempat terjadinya reaksi oksidasi.
    Katode, yaitu elektrode tempat terjadinya reaksi reduksi.
    TIPS : Katoda (+); Anoda (-) disingkat KPAN

2. Larutan / elektrolit
    Elektrolit, yaitu zat yang dapat menghantarkan listrik. Larutan yang ada pada setiap 
    gelas reaksi sebenarnya adalah larutan yang elektrodanya atau ion loga dari 
    elektrodanya

3. Jembatan Garam
    Rangkaian luar, yaitu kawat konduktor yang menghubungkan anode dengan katode.
    Jembatan garam, yaitu rangkaian dalam yang terdiri dari larutan garam. Jembatan 
    garam memungkinkan adanya aliran ion-ion dari setengah sel anode ke setengah sel 
    katode, dan sebaliknya sehingga terbentuk rangkaian listrik tertutup.
   Jembatan garam berfungsi untuk menyeimbangkan muatan pada masing-masing 
   gelas selain juga untuk menghubungkan kedua gelas tersebut

Apa itu Potensial Reduksi ?
Adanya arus listrik berupa aliran elektron pada sel volta disebabkan oleh adanya beda potensial antara kedua elektrode yang disebut juga dengan potensial sel (E ) ataupun gaya gerak listrik (ggl) atau electromotive force (emf). 
Potensial sel yang diukur pada keadaan standar (suhu 25°C dengan konsentrasi setiap produk dan reaktan dalam larutan 1 M dan tekanan gas setiap produk dan reaktan 1 atm) disebut potensial sel standar (E°). 
Nilai potensial sel sama dengan selisih potensial kedua elektrode. Menurut kesepakatan, potensial elektrode standar mengacu pada potensial reaksi reduksi.

E sel = E° katoda - E° anoda

Katode adalah elektrode yang memiliki nilai E° lebih besar (positif), sedangkan anode adalah elektrode yang memiliki nilai E° lebih kecil (negatif). 
Data nilai potensial elektrode standar dapat dilihat pada tabel berikut :

Reaksi Redoks Spontan?
Kespontanan reaksi redoks dapat diprediksi dari nilai potensial reaksi redoks tersebut. Nilai potensial reaksi redoks sama dengan nilai potensial sel (E sel), yaitu selisih antara potensial reduksi katode (reaksi reduksi) dengan potensial reduksi anode (reaksi oksidasi). 
Suatu reaksi redoks akan berlangsung spontan ke arah pembentukan produk bila potensial reaksinya bernilai positif.

Reaksi redoks spontan dapat juga diprediksi dengan deret volta. Deret volta adalah susunan unsur/ion berdasarkan harga potensial elektroda

                                                       --------------------------> harga E° semakin besar

Li - K - Ba - Ca - Na - Mg - Al - Mn - Zn - Cr - Fe - Co - Ni - Sn - Pb - [H] Cu Hg Ag - Pt - Au

Logam dikiri mampu mereduksi ion-ion disebelah kanannya <----------------------------------

(dibaca: Lihat Kalau Baginda Caesar Nanti Meninggal Alangkah Manis Zaman Crajaan Feodal Corup Ini Sanggah Pa bupati - H - Cuma Hanggar Agunan Pesawat AU)

Keterangan deret volta :
  • Reaktivitas unsur logam semakin berkurang dari kiri ke kanan.
  • Sifat reduktor (daya reduksi) logam semakin berkurang dari kiri ke kanan.
  • Kecenderungan logam untuk teroksidasi semakin berkurang dari kiri ke kanan.
  • Sifat oksidator (daya oksidasi) logam semakin bertambah dari kiri ke kanan.
  • Kecenderungan ion logam untuk tereduksi semakin bertambah dari kiri ke kanan.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tips: Semakin kecil E°, makin kuat sifat reduktornya (muda mengalami oksidasi)
         Logam disebelah kiri H mempunyai E° negatif
         Logam disebelah kanan H mempunyai E° positif
         Reaksi berlangsung spontan jika E°sel > 0
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Contoh Soal : 

Nomor #1
Diketahui : 
Ag+ + e– --> Ag   E° = +0,799 volt
Ni2+ + 2e– --> Ni  E° = – 0,23 volt
Tentukan potensial sel untuk reaksi
2Ag+ + Ni --> 2Ag + Ni2+

Penyelesaian
Reduksi : Ag+ + e– --> Ag
Oksidasi: Ni --> Ni2+ + 2e–
Esel = E°reduksi – E°oksidasi
    = +0,799 volt – (– 0,23 volt)
    = +1,029 volt   ----->  (Esel bertanda positif (+), reaksi dapat berlangsung (spontan).

Nomor #2

Diketahui potensial elektrode aluminium dan perak sebagai berikut.
Al3+ (aq) + 3e → Al(s) E° = −1,66 V
Ag+ (aq) + e → Ag(s) E°   = +0,80 V
a. Tulislah diagram sel volta yang disusun dari kedua elektrode tersebut.
b. Tuliskan reaksi yang terjadi pada sel tersebut.
c. Tentukan potensial standar sel tersebut.
d. Prediksikan apakah reaksi Al(NO3)3 (aq) + 3Ag(s) → Al(s) + 3AgNO3 (aq) berlangsung 
    spontan pada keadaan standar.

Penyelesaian :

a. Reaksi oksidasi di anode → E° lebih negatif → Al
    Reaksi reduksi di katode → E° lebih positif → Ag
    Diagram sel: Al3+ | Al || Ag+ | Ag

b. Katode (reduksi) : 3Ag (aq) + 3e → 3Ag(s)                      E° = +0,80 V
    Anode (oksidasi) : Al(s) → Al (aq) + 3e                            E° = - 1,66 V
    ------------------------------------------------------------------------------------------------
    Reaksi sel          : 3Ag (aq) + Al(s) → 3Ag(s) + Al (aq)     E°sel = +2,46 V

Perhatian! Nilai potensial elektrode tidak bergantung pada koefisien reaksi.
c. E° sel = E°katoda  – E°anoda  = (+0,80 V) − (−1,66 V) = +2,46 V
d. E°sel = E°(Al3+/Al) – E° (Ag+ /Ag) = (−1,66 V) − (+0,80 V) = −2,46 V
    Oleh karena E° < 0, reaksi tidak berlangsung spontan.